Jumat, 11 November 2011

Pembangunan Nasional Indonesia sebagai "Negara Kepulauan" dari Perspektif Geopolitik menghadapi Tantangan Global – 3 November 2011


Pada pertemuan kuliah ke Sembilan ini, diadakan kuliah umum yang dibawakan oleh Bapak Nono Sampono mengenai Pembangunan Nasional Indonesia sebagai “ Negara Kepulauan” dari Perspektif Geopolitik dalam Menghadapi Tantangan Global.

Indonesia merupakan Negara Maritim yang terdiri dari tanah dan air. Dan sering kali dikatakan kita kaya akan tanah dan air, serta makmur. Tetapi sebenarnya kita masih mengalami kemiskinan. Meskipun di Indonesia memiliki kurang lebih 17.500 pulau baik pulau kecil maupun pulau besar.

Pada mulanya Indonesia merupakan Negara yang mengandalkan kekuatan  akan perdagangan dan perang tetapi setelah mengalami penjajahan oleh negara lain, barulah Indonesia beradaptasi dengan daratan saja sehingga menjadi Negara agraris dimana mata pencaharian yang ada berdasarkan dengan kekayaan yang ada di darat saja.

Sehingga membuat warga Indonesia sekarang ini ingin melepaskan permasalahan atas kemiskinan. Dan membawa warga kepada reformasi dengan maksud membawa pengaruh yang positif bagi permasalahan yang ada.

Ada pula ramalan-ramalan yang pernah dikatakan Bapak Presiden RI yang pertama yaitu Soekarno, yang memberikan lima point penting tentang Negara ini, antara lain :
  1. Negara kepulauan (dari Sabang sampai Merauke)
  2. Tuhan membuat Negara ini pada posisi persilangan sehingga kekuatan yang ada serta potensi harus digali
  3. Sumber daya yang ada banyak sekali baik di Pulau (darat) maupun di Laut
  4.  Terbentuknya bangsa
  5. Dari Bangsa – bangsa Pasifik merupakan warisan yang kemudian menjadi bangsa Indonesia




Jumat, 04 November 2011

Challenges and Change in The Media and Communication – 31 Oktober 2011


Pada pertemuan kuliah yang ke-delapan ini Bapak Widyatmoko Kukuh Sanyoto yang akrab dengan panggilan pak Kuh akan membahas mengenai “Peluang dan Kesempatan dalam Media Komunikasi” 

Perkembangan teknologi saat ini sudah membuat perubahan bagi media, dimana perubahan terjadi dari media analog menjadi media digital. Sebagai contoh kecilnya, ketika kita ingin mendengarkan music kita menggunakan yang namanya kaset yang menggunakan pita hitam, namun sekarang kita sudah bisa menggunakannya CD (compact disc).  Perkembangan teknologi sangat mempengaruhi perkembangan media, dan disinilah para khalayak diubahkan dalam menikmati media ( perubahan dalam citra rasa atau selera dalam acara program).

Khalayak memiliki selera masing masing dalam menikmati informasi yang disediakan. Dan kebanyakan dari masyarakat saat ini memilih untuk mengkonsumsi informasi yang bersifat hiburan. Disinilah media dituntut untuk membuat sebuah perubahan mengikuti perkembangan dan permintaan dari khalayak. Media juga berperan penting dalam menyuguhkan informasi-informasi, karena sebuah berita atau kejadian yan sebenarnya tidak memiliki keunikan dan keistimewaan karena terlalu sering diberitakan maka berita tersebut menjadi informasi yang menarik.

Selasa, 25 Oktober 2011

Anatomi Penyiaran – 24 Oktober 2011


Pada pertemuan kuliah yang ke-tujuh ini Bapak Paulus widiyanto selaku sebagai Ketua Pansus UU Penyiaran akan membahas tentang Anatomi Penyiaran. Matakuliah ini dimulai pak Paulus dengans ebuah pertanyaan-pertanyaan yang membuat kami para mahasiswa-mahasiswi berfikir secara cepat. “ apa yang terlintas dalam benak kalian ketika mendengar kata Penyiaran ? “ dari pertanyaan yang sangat simpel dan sederhana itulah membuat kami para mahasiswa-mahasiswi kesulitan untuk menjawab dengan cepat.  Namun kami mampu menjawab pertanyaan dari beliau, meskipun dengan jawaban yang sangat beragam, ada yang menjawab satelit, media, radio, televisi, khalayak, dan lainnya. 

Tetapi Pak Paulus Widiyanto menjelaskan bahwa ada 10 anatomi dalam penyiaran, diantaranya ; 

  1. Lembaga/Institusi: sebuah media penyiaran pasti dimiliki oleh suatu lembaga/institusi resmi (PT, Yayasan, Group, perusahaan, dan lain-lain).
  2. Kepemilikan: media penyiaran dimiliki oleh seseorang, beberapa orang atau badan hukum yang sah.
  3. Perizinan: dalam melakukan penyiaran harus mendapat izin yang legal secara hukum.
  4. Infrastruktur: untuk mendukung media penyiaran diperlukan pula sarana-sarana seperti antenna, satelit, pemancar, gelombang, dan kabel.
  5. Isi/content: isi yang disiarkan bisa berbeda-beda, mulai dari news, sport, comedy, dan lain-lain, tergantung dari masing-masing media penyiaran.
  6. Audiences: media penyiaran memiliki segmentasi penonton, segmentasi tersebut ditentukan berdasarkan jenis kelamin dan usia.
  7. Organisasi Bisnis/Usaha: media penyiaran bisa memperoleh penghasilan dari iklan, langganan, dan saham.
  8. SDM/Profesi: orang-orang yang bekerja di dalam media penyiaran itu sendiri, seperti redaktur, wartawan, reporter, cameramen, editor, dan lainnya.
  9. Pasar/Market Area: media penyiaran harus menentukan target pasar yang diinginkan, mulai dari lokal, nasional, trans nasional ataupun global. 
  10. Regulator: pengatur penyiaran di Indonesia, misalnya saja KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), pemerintah, dan KPPU (Komisi Pengawasan PErdagangan Usaha). 
 
 

Kamis, 06 Oktober 2011

Media Massa dan Budaya Massa – 03 Oktober 2011


Pada Pertemuan kuliah yang ke-enam ini Ibu Aminah Swarnawati akan membahas tentang Media massa dan Budaya Massa. Dalam mata kuliah ini Beliau menjelaskan bahwa media massa akan mempengaruhi Khalayak melalui pesan yang disiarkan. Adapula media massa yang mempengaruhi khalyak secara jangka waktu yang pendek dan panjang, karena dipengaruhi dengan adanya kekuatan tertentu dalam mempengaruhi khalayak dalam menerima pesan.

Menurut Bennet dan Tumin, KEBUDAYAAN MASSA merupakan “ Seperangkat ide bersama dan pola perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks. ”

Budaya Massa itu sendiri merupakan budaya populer yang dihasilkan industry produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan pada khalayak konsumen. Adapula menurut Aliran Frankfurt, yang menyatakan bahwa budaya populer adalah budaya massa yang dihasilkan industri budaya untuk stabilitas maupun kesinambungan kapitalisme.

 Dilain sisi Fishwick dan Wilson mengakui bahwa BUDAYA POPULER sebenarnya dapat diartikan sebagai “ Bentuk budaya yang dimiliki oleh setiap orang dalam suatu masyarakat tertentu. ”. Budaya tersebut dipengaruhi dalam berbagai rangsangan dari luar (termasuk media massa) yang tidak kita sadari namun membuat kita melakukannya.

Contoh : Produk makanan yogurt, karena banyaknya iklan media massa yang mempromosikan produk tersebut maka konsumen akan mulai tertarik akan produk tersebut dan mulai untuk mengkonsumsinya. Karena budaya massa dapat muncul dalam bentuk mengikuti selera masyarakat pada umumnya.

Budaya massa tidak hanya bersifat material tetapi juga immaterial, seperti cara berpendapat dan berpikir, cara merasakan sesuatu sampai pada tindakan tertentu. Ghanney dan McQuail mengemukakan bahwa peranan media massa berkaitan erat dengan budaya massa yang mengendalikan dan mengarahkan perilaku khalayak konsumen.

Adapula 3 Tahap  Perkembangan Media Massa dalam kaitannya dengan Budaya Massa. Wilson mengutip pendapat Ralp Lowenstein dan John Merril yang mengatakan bahwa ada 3 tahap, yaitu:
1.      Tahap Elit
Berlalunya perkembangan media cetak pada abad 16, maka BUDAYA ELIT yang merupakan budaya yang dimonopoli kaum berpendidikan dan kaum kaya serta para aristokrat perlahan memudar. Budaya elit mulanya mengacu pada suatu budaya masyarakat kelas atas. Pada saat itu pemisahan budaya kelas atas dengan kelas bawah masih sangat terasa. Masyarakat bawah hanya berfungsi sebagai penghibur kaum elit.

2.      Tahap Populer
Perkembangan media massa memungkinkan rakyat biasa menikmati, mengikuti, mempelajari segala sesuatu yang sebelumnya hanya dinikmati oleh kelompok atas. Pada saat bangkitnya masyarakat untuk memiliki segala sesuatu berdasarkan terpaan media itulah timbul BUDAYA MASSA.

3.      Tahap Spesialisasi
AS dipandang dalam sejarah media massa sebagai bangsa yang mempelopori era spesialisasi media. Di AS timbul gerakan yang mengarahkan media kepada khalayak tertentu, baik secara demografis (berdasarkan usia, pekerjaan, jenis kelamin) maupun psikografis (berdasarkan gaya hidup, perilaku, sikap, pandangan). Pada tahap spesialisasi media dikelola secara profesional kemudia diarahkan kepada khalayak yang sudah direncanakan terlebih dahulu.